
Meskipun demikian, masih banyak siswa yang sering melanggar peraturan yang telah dibuat meski sudah dikenai sanksi. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari keluarga/orang tua di rumah dan kesadaran masing-masing siswa untuk menggunakan medsos secukupnya. Pihak sekolah juga berharap agar setiap siswa memiliki kesadaran diri, manajemen waktu, dan disiplin dalam bermedia sosial agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan yang akan kembali berdampak buruk pada siswa itu se
Berita1
Hampir seluruh siswa/i (sekitar 90-98%) di
Indonesia menggunakan internet dengan presentase penggunaan medsos mencapai
lebih dari 80% pada kelompok usia 12-19 tahun. Hal ini tidak jauh berbeda dari
hasil pengamatan dan penelitian di SMP YPPK BONAVENTURA Sentani, Kabupaten
Jayapura, Papua. Sebanyak 95% siswa/i menggunakan internet secara aktif khususnya
medsos. Berikut hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan siswa/i kelas 9A
yang juga telah di setujui oleh beberapa guru/staff sekolah, Rabu (26/4)
“Kalau tidak memegang hp saya merasa
janggal, karena di dalam hp ada media sosial seperti Instagram atau Tiktok yang
hampir setiap hari saya pakai” sebut Agatha, siswi SMP Bonaventura dalam
wawancara yang dilakukan oleh beberapa siswa yang sedang melakukan pengamatan
tentang siswa dan medsos. “Kalau aku, medsos itu engga terlalu penting, karena
justru itu yang bikin aku terkadang ga bisa fokus belajar,” Menurut Qeysha yang
juga merupakan siswi SMP YPPK Bonaventura yang sedang diwawancarai di waktu
yang sama. “Meski aku tau aku juga sama seperti sebagian besar siswa/i Bona
yang kalau menggunakan medsos itu tidak tau waktu dan cenderung kecanduan
sampai rela begadang, tetap aja kita perlu punya batasan dalam bermedia sosial.”
Imbuhnya kemudian
“Saya sih enggak setuju ya kalau siswa dikatakan
tidak bisa lepas dari medsos. Ya, coba di pikirkan, kebanyakan tugas sekolah
semuanya disuruh untuk dicari dari internet, di post di medsos, bahkan untuk
mencari sumber informasi saja dari medsos. Bagaimana kita tidak membuka medsos
hampir setiap waktu?” Sela siswa lain bernama Rachel yang merupakan teman dari Qeysha
saat wawancara.
“Menurut pendapat saya, medsos itu
sebenarnya penting buat kita para siswa remaja yang mungkin kebanyakan sedang
berada di masa puber dimana kita senang sekali mengeksplorasi hal-hal baru yang
bersifat trendy. Saya sering menggunakan medsos agar bisa menjadi
terkenal dan punya banyak teman online baru, meskipun kadang ada beberapa orang
di medsos yang dapat membuat saya kurang nyaman.” Kata Maria, siswi kelas 9A yang
ikut diwawancarai ditempat.
Dari hasil wawancara singkat terhadap
beberapa siswa di SMP Bonaventura, dapat dilihat bahwa hampir semua siswa/i
tidak bisa lepas dari medsos. Entah penyebabnya karena mereka suka dengan
video-video atau reels yang di tampilkan, berusaha keras untuk menjadi viral
atau fyp di medsos, atau dapat mengenal banyak sekali orang baru yang
ditemui di medsos. Adapun alasan lain yang menjadi faktor pendukung mengapa
siswa/i tidak bisa lepas dari medsos adalah karena mulai banyaknya tugas yang
harus melibatkan medsos sehingga hampir setiap hari siswa aktif menggunakan
ponsel mereka.
Sebelum maraknya penggunaan medsos
dikalangan remaja seperti sekarang, para guru pun tak pernah memberikan tugas
yang membutuhkan medsos untuk mengerjakannya. Namun dikarenakan penggunaan
ponsel oleh siswa yang semakin marak, para guru pun mulai mengimprovisasi cara
mengajar dan memberi tugas mereka. Ditambah lagi dengan munculnya kurikulum
baru dari pemerintah yaitu “Kurikulum Merdeka” yang membebaskan siswanya
untuk kreatif dalam belajar di era modern ini. “Implementasi Kurikulum Merdeka
semakin gencar mengintegrasikan teknologi digital dalam proses belajar
mengajar. Salah satu perubahan paling signifikan adalah pemanfaatan ponsel
sebagai sarana utama akses materi, bukan sekadar alat komunikasi,” Menurut Kemendikdasmen
disaat mulai diterbitkannya Kurikulum ini, Jumat (22/2)
Tak ada satupun pihak yang pantas untuk
disalahkan sepenuhnya dalam permasalahan ini, sebab masalah seperti ini kembali
pada pengguna medsos dan lingkungan sekitarnya. Pihak sekolah, khususnya SMP
YPPK Bonaventura diharapkan dapat menjadi salah satu agen pendamping penting
setelah keluarga untuk mendampingi siswa/i untuk mengelola waktu mereka dalam
bermedia sosial. SMP Bonaventura telah berpartisipasi dalam mencoba mengurangi
permasalahan ini, salah satunya yang paling umum adalah dengan aturan: “Tidak
diperkenankan untuk siswa membawa ponsel ke sekolah, kecuali mendapat perintah
dari guru mata Pelajaran atau adanya event tertentu yang
memperbolehkan/mengharuskan siswa untuk membawa ponsel.” Adapun beberapa guru
SMP Bonaventura yang sebisa mungkin tidak menggunakan ponsel siswa dalam
pembelajaran guna untuk mengurangi pemakaian ponsel siswa dan melatih otak
siswa untuk berpikir tanpa gangguan medsos.
Meskipun demikian, masih banyak siswa yang
sering melanggar peraturan yang telah dibuat meski sudah dikenai sanksi. Hal
ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari keluarga/orang tua di rumah dan
kesadaran masing-masing siswa untuk menggunakan medsos secukupnya. Pihak sekolah
juga berharap agar setiap siswa memiliki kesadaran diri, manajemen waktu, dan
disiplin dalam bermedia sosial agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan
dimasa depan yang akan kembali berdampak buruk pada siswa itu sendiri.