Sebanyak 95% siswa/i SMP YPPK BONAVENTURA tidak bisa lepas dari medsos, apa penyebabnya? Apa penanganan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah?

Meskipun demikian, masih banyak siswa yang sering melanggar peraturan yang telah dibuat meski sudah dikenai sanksi. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari keluarga/orang tua di rumah dan kesadaran masing-masing siswa untuk menggunakan medsos secukupnya. Pihak sekolah juga berharap agar setiap siswa memiliki kesadaran diri, manajemen waktu, dan disiplin dalam bermedia sosial agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan yang akan kembali berdampak buruk pada siswa itu se

Berita1

    Hampir seluruh siswa/i (sekitar 90-98%) di Indonesia menggunakan internet dengan presentase penggunaan medsos mencapai lebih dari 80% pada kelompok usia 12-19 tahun. Hal ini tidak jauh berbeda dari hasil pengamatan dan penelitian di SMP YPPK BONAVENTURA Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Sebanyak 95% siswa/i menggunakan internet secara aktif khususnya medsos. Berikut hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan siswa/i kelas 9A yang juga telah di setujui oleh beberapa guru/staff sekolah, Rabu (26/4)

 

    “Kalau tidak memegang hp saya merasa janggal, karena di dalam hp ada media sosial seperti Instagram atau Tiktok yang hampir setiap hari saya pakai” sebut Agatha, siswi SMP Bonaventura dalam wawancara yang dilakukan oleh beberapa siswa yang sedang melakukan pengamatan tentang siswa dan medsos. “Kalau aku, medsos itu engga terlalu penting, karena justru itu yang bikin aku terkadang ga bisa fokus belajar,” Menurut Qeysha yang juga merupakan siswi SMP YPPK Bonaventura yang sedang diwawancarai di waktu yang sama. “Meski aku tau aku juga sama seperti sebagian besar siswa/i Bona yang kalau menggunakan medsos itu tidak tau waktu dan cenderung kecanduan sampai rela begadang, tetap aja kita perlu punya batasan dalam bermedia sosial.” Imbuhnya kemudian

 

    “Saya sih enggak setuju ya kalau siswa dikatakan tidak bisa lepas dari medsos. Ya, coba di pikirkan, kebanyakan tugas sekolah semuanya disuruh untuk dicari dari internet, di post di medsos, bahkan untuk mencari sumber informasi saja dari medsos. Bagaimana kita tidak membuka medsos hampir setiap waktu?” Sela siswa lain bernama Rachel yang merupakan teman dari Qeysha saat wawancara.

 

    “Menurut pendapat saya, medsos itu sebenarnya penting buat kita para siswa remaja yang mungkin kebanyakan sedang berada di masa puber dimana kita senang sekali mengeksplorasi hal-hal baru yang bersifat trendy. Saya sering menggunakan medsos agar bisa menjadi terkenal dan punya banyak teman online baru, meskipun kadang ada beberapa orang di medsos yang dapat membuat saya kurang nyaman.” Kata Maria, siswi kelas 9A yang ikut diwawancarai ditempat.

 

    Dari hasil wawancara singkat terhadap beberapa siswa di SMP Bonaventura, dapat dilihat bahwa hampir semua siswa/i tidak bisa lepas dari medsos. Entah penyebabnya karena mereka suka dengan video-video atau reels yang di tampilkan, berusaha keras untuk menjadi viral atau fyp di medsos, atau dapat mengenal banyak sekali orang baru yang ditemui di medsos. Adapun alasan lain yang menjadi faktor pendukung mengapa siswa/i tidak bisa lepas dari medsos adalah karena mulai banyaknya tugas yang harus melibatkan medsos sehingga hampir setiap hari siswa aktif menggunakan ponsel mereka.

 

    Sebelum maraknya penggunaan medsos dikalangan remaja seperti sekarang, para guru pun tak pernah memberikan tugas yang membutuhkan medsos untuk mengerjakannya. Namun dikarenakan penggunaan ponsel oleh siswa yang semakin marak, para guru pun mulai mengimprovisasi cara mengajar dan memberi tugas mereka. Ditambah lagi dengan munculnya kurikulum baru dari pemerintah yaitu “Kurikulum Merdeka” yang membebaskan siswanya untuk kreatif dalam belajar di era modern ini. “Implementasi Kurikulum Merdeka semakin gencar mengintegrasikan teknologi digital dalam proses belajar mengajar. Salah satu perubahan paling signifikan adalah pemanfaatan ponsel sebagai sarana utama akses materi, bukan sekadar alat komunikasi,” Menurut Kemendikdasmen disaat mulai diterbitkannya Kurikulum ini, Jumat (22/2)

 

    Tak ada satupun pihak yang pantas untuk disalahkan sepenuhnya dalam permasalahan ini, sebab masalah seperti ini kembali pada pengguna medsos dan lingkungan sekitarnya. Pihak sekolah, khususnya SMP YPPK Bonaventura diharapkan dapat menjadi salah satu agen pendamping penting setelah keluarga untuk mendampingi siswa/i untuk mengelola waktu mereka dalam bermedia sosial. SMP Bonaventura telah berpartisipasi dalam mencoba mengurangi permasalahan ini, salah satunya yang paling umum adalah dengan aturan: “Tidak diperkenankan untuk siswa membawa ponsel ke sekolah, kecuali mendapat perintah dari guru mata Pelajaran atau adanya event tertentu yang memperbolehkan/mengharuskan siswa untuk membawa ponsel.” Adapun beberapa guru SMP Bonaventura yang sebisa mungkin tidak menggunakan ponsel siswa dalam pembelajaran guna untuk mengurangi pemakaian ponsel siswa dan melatih otak siswa untuk berpikir tanpa gangguan medsos.

 

    Meskipun demikian, masih banyak siswa yang sering melanggar peraturan yang telah dibuat meski sudah dikenai sanksi. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari keluarga/orang tua di rumah dan kesadaran masing-masing siswa untuk menggunakan medsos secukupnya. Pihak sekolah juga berharap agar setiap siswa memiliki kesadaran diri, manajemen waktu, dan disiplin dalam bermedia sosial agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan yang akan kembali berdampak buruk pada siswa itu sendiri.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT